Minggu, Agustus 02, 2009

nama Mbahmu bukan Samirono, tho?

Dear Bapak pemilik 206 silver AD****AA,

Awalnya liat mobil bapak masuk ke ruas jalan yang saya lewati, dari gang kampus FBS UNY, sejenak saya teringat dengan budhe saya yang mana punya mobil seperti itu juga [dengan warna lain] dan tinggal di Solo. Mobil bapak waktu itu berjalan pelan sekali di depan saya, dan tidak memberi kesempatan pada saya untuk menyiap padahal jalur yang berlawanan arah sedang kosong.

"Baeklah Pak, saya tidak akan menyiap mobil Bapak. Toh, sebentar lagi nyampe simpang Samirono [samping lapangan FPOK-red], mungkin di jalan yang lebih lebar, bliow *tsaaaaah, 'bliow' cubak! tuuuu kan, saya masi menghormati Bapak lho, cuma semata-mata Bapak lebih tua aja tapi* bisa sedikit mempercepat laju mobil, atau saya bisa menyiap mobil bliow secara jalannya lebar inih," gitu pikir saya.

Tapi setelah belok ke kiri di pertigaan, masuk ke jalan Samirono, sumpah... cara Bapak mengendarai mobil TERAMAT SANGAT TIDAK GANTENG SEKALI! Bapak dengan semena-mena brenti aja gituh di lajur kiri, yang jaraknya gag lebih 10 meter dari simpang.

Hooo, plat mobil Bapak tu bukan AB siy yaaa, jadi gag taw deh tentang jalan Samirono. Gini lho Pak, jalan Samirono tu emang dulunya lebar. Jalan tersebut ramai lalu menjadi lahan penghasilan bagi para pedagang kacamata, kelinci, sampe racun tikus. Yang saya taw dari dosen Interaksi dan Tata Guna Lahan di kampus saya menuntut ilmu, pedagang yang tadinya berjualan di trotoar itu sudah diusir dengan cara memberi bangunan kecil untuk menanam tumbuh-tumbuhan supaya mereka gag bisa berjualan di area tersebut. Pada awalnya berhasil, tapi karena merasa longgar pengawasan, mereka kembali lagi berjualan di daerah tersebut dengan menempati lajur khusus sepeda. Yang ini justru lebih parah karena semakin ke tengah jalan. Ya ampyuuuun, gag adil kan yah, pengguna sepeda yang jelas2 gag nambahin polusi di bumi ini, hak lajurnya malah direnggut sehingga keamanan mereka saat berkendara menjadi tidak terjamin... Brubung lajur khusus sepeda tersebut digunakan untuk berjualan, jalan tersebut terlihat sempit.

"Hmm, mungkin Bapak ini gag taw yah, kalau ada cewek kece yang lagi bersemangad mempelajari ilmu transportasi sedang berada persis di belakang mobil bliow, terjebak dengan cantiknya, karena tidak menyangka bliow akan berhenti di situ sementara di belakangnya ada banyak motor. Duh, kayaknya sulit neh ngambil lajur kanan karena lalu-lintas sedang ramai..." gitu pikir saya lagih.

Saya pun membunyikan klakson, sebagai tanda untuk mengingatkan Bapak bahwa tindakan Bapak tu salah. Dengan mobil Bapak berhenti di lajur kiri itu, otomatis cuma tersisa satu lajur saja di sebelah kanan. Kondisi ini sangat tidak dibenarkan dalam ilmu transportasi, kecuali ada hal2 darurat mungkin. Bapak kan bisa tuh, parkir di lajur khusus sepeda, yang ada di depan sonooo noh? Yang gag dipake pedagang. Tapi kok ya sampe sekian detik ndhak ada tanda2 pintu penumpang yang dibuka *barangkali mobil Bapak tu brenti cuma bwt ngedrop lantas maju lagi bwt nyari tempat parkir*

Setelah berdetik2 kemudian, seorang ibu setengah baya dan berjilbab yang duduk di sebelah bapak turun. Saya mayan lega dan berpikir, "Pasti niat bapak ini cuma ngedrop istrinya yang mow belanja kacamata item, lalu bliow maju lagi sampai bisa menepi ke lajur sepeda untuk parkir sejenak. Ah, seandenya saya menhub *yang mana kayaknya gag bakal terjebak dalam situasi kayak gitu deh, coz mobil mentri kan byasanya diprioritaskan*, saya akan turun dari mobil lantas menjabat tangan bliow untuk mengucapkan terima kasih dan selamat atas inisiatif bliow untuk belajar dari komplen orang laen."

Tapi sepertinya istri Bapak ini masih merasa perlu berkonsultasi untuk memilih kacamata yang cocok, sehingga istri bapak berdiri aja getuh di samping mobil bapak dan mobil Bapak gag buru2 maju, ndheprok ajah disitu.

Melihat ibu itu tidak segera menutup pintu mobil, ibu saya membuka kaca mobil sambil bicara, "Bu, tolong mobil suami ibu maju lagi." Ow iyah, Bapak harus tahu kalau Ibu saya itu orang bahasa, sehingga dapat menyampaikan keinginan dengan sopan. Bukan begitu, Pak?

Tapi yah, karena istri bapak tidak bereaksi apa-apa dan saya melihat dari kaca belakang mobil bapak kalau bapak hanya diam saja, saya jengah dan kembali mengklakson lebih lama. Lagi-lagi Bapak tidak bereaksi. Setelah melihat arus kendaraan di lajur kanan belakang agak sepi [untungnya mobil di belakang memberi kesempatan pada saya untuk berpindah lajur], saya mencoba mundur dan berpindah ke lajur kanan, melewati samping kanan mobil Bapak. Saat itu juga Bapak membuka kaca mobil bapak kemudian menyindir saya dengan indahnya, "Baru belajar nyetir yah?"

"Behave chik, behave!" ini yang terngiang2 di telinga saya, karena sehari sebelumnya, teman-teman saya yang lagi datang ke Jogja selalu mengulang kata-kata tersebut, mengingat gurauan kami tuh sering kelewat seru.

Duh Pak, Anda sebaiknya tidak berkata begitu pada saya terutama pada Ibu saya, karena bliow sudah mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membiayai saya belajar menyetir. Bliow pula yang mendukung saya untuk belajar di bidang transportasi. Ibu saya pun jadi emosi dan entah mengucapkan kata-kata apa, karena saat itu juga saya sewot sambil ngomong 's*mpr*l' dan 'kurang a*a*'.

Kalau waktu itu tujuan kami bukan bwt dateng kondangan, mungkin saya akan menghentikan mobil saya di depan, di lajur sepeda yang lengang dan tidak digunakan sebagai tempat berjualan, turun dan berjalan menghampiri mobil Bapak, kemudian memberikan tutorial singkat. Gratis kok Pak! Bapak itu emang bisa nyetir, tapi Bapak itu NGGAK TAU ATURAN! Hal itu membuat saya curiga kalau SIM A yang Bapak dapatkan itu hasil nembak total [baek ujian teori dan prakteknya]. Gag cuma di Samirono atow Jogja ajah, sekalipun di Solo kalau cara Bapak parkir seperti itu, Bapak tetap salah.

Make' jalan tu mbok yo jangan semena-mena, tho Pak! Nama Mbahnya Bapak bukan 'Samirono', kaaaaan?** Kalau gitu jangan seenak wudel parkir di tengah jalan dong! Lak dudu dalane mbahmu tho???

Aaaarghhhh, behave Pak, behave!!!!

Turun dari mobil menuju pintu masuk gedung kondangan, Ibu saya mengemukakan ide cemerlangnya, "Kamu itu harusnya nempel sticker MSTT di mobil!"
Hwahahaha, gara-gara Bapak neh, Ibu saya jadi protes!

**teringat sebuah postingan dalam blog keren yang pernah saya baca